Aku berjalan menuju sebuat perpustakaan. Pandanganku tertuju pada seseorang yang berada di bangku paling depan. Perlahan lahan aku dekati dia
"Hay Res, boleh duduk disini" pintaku padanya
"Iya, duduk aja" jawabnya padaku
Tanpa ekspresi apapun. Tidak seperti biasanya, rasanya aku seperti dicampakkan, setidaknya sebagai seorang pacar dia bisa lebih sedikit perhatian padaku. Aku mencoba mencuri perhatian padanya,
"Res, lagi baca apa? sibuk banget"tanyaku padanya,
"Ensiklopedia" jawabnya dengan nada standard, dan muka judes
Ini membuatku pusing. Andai saja penyakit ini tidak bersarang pada tubuhku, beban sedikit membuatku terasa sangat pusing, hingga semua berkunang kunang,
"Res, kepalaku pusing banget" rengekku padanya
"Kebiasaan, kasian deh lu, makanya kaga usah mikir yang gak penting, udah ah aku mau pergi" jawabnya sambil melangkahkan kaki meninggalkanku
Apa ini? maksudnya? sebenarnya dia pacarku bukan sih,, kenapa aku meragukan ucapannya yang dulu terlontar untukku, aah ini semua membuatku tambah pusing, aku berjalan sempoyongan ke luar perpus, mengejar Resya, yang langkahnya semakin cepat.
Di depan kelas terlihat Rina terjatuh membawa beberapa buku, laki-laki seperti Resya pasti juga cuek melihat semua itu, aku yakin.
Tapi tiba-tiba aku tercengang, melihatnya menghampiri Rina sahabatku dan membantunya berdiri, membereskan buku-bukunya, dan membantunya mengangkat buku-buku itu.
"Kamu nggak papa? lain kali hati-hati ya? nggak ada yang lukakan?" Ucapnya pada Rina
Ya tuhan, apa aku tidak salah dengar, dia mencampakkanku yang sedang sakit, tapi membantu Rina? Kenapa sih dia itu. Tiba-tiba kepalaku sangat sakit,
"aw... Ya Tuhan..." keluhku
Aku lemas dan seketika pandanganku gelap.
***
Aku mulai mendengar suara-suara itu, seperti suara Ayah. Dan aku membuka mataku, terlihat wajah Ayah, dan Nenekku yang cemas. Aku merasa pipiku basah, dan butiran-butiran air keluar dari mataku
"Ayah...,"
"Chaca, untung kamu sudah sadar,"
"Ayah kenapa mataku lebab, kenapa penuh air? dan mengapa pipiku basah?"
"Kamu menangis"
"Menangis? apa itu menangis Ayah?, pasti sesuatu yang buruk, bagaimana cara menghentikannya Ayah?, dadaku sesak, mengapa rasanya seperti terhantam batu ayah?"
"Menangis itu dimana kamu mengeluarkan airmata. Airmata itu tanda kesedihan, kamu hanya cukup mengusapnya"
"Aku benci airmata Ayah, Ini menyakitkan"
"memang ada apa?"
"soal Resya, Dia sama sekali tidak memperdulikanku, tapi malah perhatian banget sama Rina Yah. Aku ga kuat dicampakkin. Dan saat aku sakit dia malah nyuekin aku, bahkan mencibirku yah"
"Sabar ya Cha, kamu ngga usah mikir Resya dulu, kamu punya penyakit ingat"
Oh ya Tuhan, Aku tidak mengerti apa itu tangis, dan apa itu airmata, ini menyakitkan, sulit untuk menghapusnya, lebih baik menghapus darah, itu lebih mudah daripada menghapus airmata yang tidak ada habisnya. Aku lelah menghapus airmata, aku lelah aku lelah, aku ingin berteriak sekeras mungkin, mengapa air ini tidak bisa berhenti..., Tuhan tolong hentikan airmataku.
